Archive for Maret 2015

Perjalanan Melintasi Zaman di Museum Sangiran, Sragen


Museum Sangiran - Pintu Gerbang

eHikmawan.com - Pernahkah anda mendengar tentang manusia purba? Atau masih ingatkah anda pada nama yang katanya adalah nenek moyang kita seperti Pitecantropus Erectus/Homo Erectus? Pada 26 Maret 2015 kemarin atas undangan seorang teman saya akhirnya berkesempatan untuk melihat langsung Museum Manusia Purba Sangiran (The Homeland of Java Man). Dengan harga tiket masuk sebesar 5000 rupiah per orang kami memasuki ruangan demi ruangan yang terbagi menjadi tiga ruang pamer yaitu:

1. Ruang Pamer 1 Kekayaan Sangiran
2. Museum Sangiran - Ruang Pamer 2 Langkah-langkah Kemanusiaan
3. Museum Sangiran - Ruang Pamer 3 Masa Keemasan Homo Erectus - 500.000 Tahun yang Lalu

Mendapat sedikit cerita dari teman, sebelum bagus seperti sekarang ini Museum Sangiran belum direvitalisasi dan  kurang menarik untuk dikunjungi.  Saat ini kondisi ruang pamernya sangat nyaman dengan penyejuk ruangan/AC yang dingin serta tata lampu yang sedap dipandang. Selain itu koleksi-koleksi yang ada sangat terawat sehingga tak heran di hari biasa pun Museum Sangiran ramai oleh pengunjung, utamanya anak-anak sekolah yang ingin mempelajari masa lalu mereka hehehe.

Seperti dikutip dari web Wikipedia,  Museum Purbakala Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² meliputi tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo). Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.

Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.

Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Relatif utuh pula. Sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan.

Daripada banyak tulisan silahkan nikmati foto-foto sederhana dari saya :D

Museum Sangiran -Patung Manusia Purba Dekat Gerbang Depan


Museum Sangiran - Ruang Pamer 1 Kekayaan Sangiran

Museum Sangiran - Ruang Pamer 2 Langkah-langkah Kemanusiaan
Museum Sangiran - Ruang Pamer 3 Masa Keemasan Homo Erectus - 500.000 Tahun yang Lalu
Museum Sangiran - Maket Museum Sangiran
Museum Sangiran - (katanya) Evolusi Manusia

Museum Sangiran - Homo Erectus

Museum Sangiran - Homo Erectus (yang tidak pakai baju ya :p)

Museum Sangiran - Manusia Modern (katanya, modern tapi kok telanjang wkwk)

Museum Sangiran - Ada ceramah juga tentang manusia modern wkwkw

Museum Sangiran - Eugene Dubois (ada yang masih inget pelajaran Sejarah di SMP/SMA? wkwk)

Museum Sangiran - Pembagian Zaman Dinosaurus

Museum Sangiran - Peralatan Manusia Purba

Museum Sangiran - Bagian Belakang Museum Sangiran

Museum Sangiran - Koleksi langka yang mencoba kabur wkwkwk

Museum Sangiran - Ada saung juga buat istirahat setelah melihat (katanya) nenek moyang wkwkw

Selasa, 31 Maret 2015
Posted by Hikmawan

Pengalaman Camp di Able Final Course Pare (Kampung Inggris)


eHikmawan.com - Able Final Course Pare adalah salah satu lembaga kursus yang pertama kali hadir di Kampung Inggris Pare dibanding beberapa kursus yang muncul belakangan. Posisi lembaga kursus ini sangat strategis, berada di pinggir jalan Brawijaya, sehingga memudahkan calon kursuser yang berminat mengambil program di sana. Able Final Course Pare menyediakan berbagai macam jenis kursus bahasa Inggris mulai dari speaking, vocabulary, hingga grammar. Selain itu mereka juga menyediakan camp yang memiliki kelas habis Subuh (sekitar jam 5) dan setelah Magrib (sekitar jam setengah 7). Untuk kelas habis Subuh berupa menghafal vocabulary dan daily expression, sementara kelas setelah Magrib diisi materi yang bervariasi mulai dari debat, presentasi, menonton film, listening, hingga drama. Biaya yang saya keluarkan saat camp di sini kalau saya tidak salah ingat adalah 150ribu per bulan.

Di Able Final Course Pare saya hanya mengambil camp saja tanpa program, karena saya sudah memiliki program sendiri di beberapa lembaga kursus lain. Kesan pertama saya saat camp di tempat ini adalah ruangan yang nyaman dan bersih. Air di kamar mandinya pun bersih. Tapi ada catatan khusus, kondisi ruangan yang bersih dan nyaman tersebut hanya saya temui di bangunan camp bagian tengah, berdasar info yang saya dapat itu adalah bangunan yang paling baru. Ketika saya dan teman-teman dipaksa pindah ke bangunan lain (karena ada rombongan wanita yang akan camp di Able, padahal saat itu tempat tersebut adalah camp laki-laki) maka yang saya dapati adalah kamar camp yang rata-rata, dengan kamar mandi yang sedikit kurang baik. Sebagai gambaran, di Able Final Course sendiri memiliki kurang lebih lima bangunan untuk camp dan beberapa tempat untuk kelas sehingga bisa dibayangkan betapa besarnya tempat ini. Terlebih tempat ini menyediakan camp untuk wanita dan laki-laki, yang tentunya dipisah di bangunan yang berbeda, sehingga menjadi salah satu nilai plus dari Able Final Course. Kelebihan lain dari Able Final Course adalah memiliki dua titik wifi.id yang sangat membantu bagi kursuser yang ingin berinternet dengan kecepatan tinggi, dan di kantor tersedia voucher wifi.id dengan produknya Indi School, seharga 1500 rupiah untuk pemakaian 24 jam. Sangat hemat, dan saat saya tes dengan Speedtest hasilnya sangat memuaskan :D

Foto bareng di Able Final Course Pare, yang saya lingkari merah adalah tutor Miss Sulis dan Mr Ogud
Dua orang tutor yang saya kenal di lembaga Able Final Course yang juga menghandle camp adalah Miss Sulis dan Mister Ogud. Kedua tutor ini yang biasanya mengadakan kelas camp setelah Subuh dan Magrib, dan menghadirkan keceriaan tersendiri dengan tingkah laku mereka berdua :D. Overall, camp di Able Final Course sangat menyenangkan, saya beberapa kali ikut serta dalam acara di camp seperti masak dan makan bersama, bakar jagung bersama, bersepeda ke Candi dan Goa Surowono, bertanding futsal dengan camp/lembaga lain, terlibat pembuatan drama berbahasa Inggris yang penuh kenangan, dan juga perpisahan yang sukses membuat beberapa kursuser menangis :D.


Masak + Makan bareng di Able Final Course Pare

Jalan-jalan bareng ke Candi Surowono
Perpisahan di Able Final Course Pare dengan berfoto bersama
Semoga informasi yang saya bagikan dapat bermanfaat bagi calon kursuser yang berniat camp dan belajar di Able Final Course Pare.

Plus:
- Lokasi yang strategis dan akses ke berbagai tempat yang mudah dijangkau
- Kondisi kamar yang bersih dan nyaman di sebagian tempat
- Terdapat kursuser wanita dan laki-laki sehingga tidak bosan
- Tutor/mentor yang menyenangkan
- Terdapat fasilitas wifi.id yang sangat cepat
- Biaya camp cukup murah

Minus:
- Tidak semua bangunan memiliki kamar yang bersih dan nyaman
- Kondisi kelas yang terkesan seadanya
- Informasi tentang Able Final Course di internet sangat sedikit sehingga terkadang menyulitkan calon kursuser yang datang dari luar daerah.
Kamis, 19 Maret 2015
Posted by Hikmawan

Waspada, Hati-hati, dan Ketahui Hal Berikut di Kampung Inggris




eHikmawan.com - Kampung Inggris Pare merupakan destinasi utama bagi sebagian masyarakat Indonesia yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris secara cepat. Dengan mengikuti kursus selama dua minggu hingga sebulan dirasa cukup untuk menaikkan satu atau dua tingkat skill berbahasa Inggris kita. Kepopuleran Kampung Inggris ternyata dimanfaatkan oleh sebagian oknum, baik dari dalam maupun dari luar warga Pare Kediri, untuk mengeruk keuntungan bagi diri sendiri dan bahkan merugikan orang lain baik dari segi materil maupun moriil. Berdasar pengalaman saya selama dua bulan setengah di Kampung Inggris Pare, berikut ini adalah hal-hal yang wajib membuat kita waspada, hati-hati dan ketahui saat memutuskan mengambil kursus di Pare:

1. Harga tarif angkutan umum yang mahal
Ketidaktahuan para pencari ilmu di Kampung Inggris Pare tentang tarif angkutan umum yang berlaku di Pare menjadi lahan empuk bagi oknum supir dan pemilik angkutan umum di Pare seperti supir angkot, tukang becak, maupun tukang ojek. Misal, dari tarif angkot dari Kota Kediri ke Desa Tulungrejo, Pare yang normalnya hanya seharga 10ribu seringkali dimanipulasi dan sopir dengan enteng meminta biaya di atas harga normal tersebut. Bahkan teman saya baru-baru ini ditipu oleh oknum sopir angkot, pertama dia diminta membayar 25ribu dan diantarkan ke satu titik di Kota Kediri, namun di tengah perjalanan meminta tambahan 25ribu lagi bila ingin diantarkan langsung ke stasiun Kediri. Sehingga total yang harus dikeluarkan adalah sejumlah 50ribu rupiah! Mengenai hal ini, saya pernah berbincang langsung dengan sopir angkot yang "waras", dan beliau mengakui bahwa ada banyak sopir nakal yang dengan enteng menaikkan tarif saat tahu yang diangkutnya adalah calon pelajar di Kampung Inggris.

Begitu juga dengan moda transportasi lain seperti becak dan ojek, tak jarang mereka menjebak dan mengenakan tarif seenaknya. Pengalaman lain, teman saya yang menggunakan jasa ojek sengaja diputar-putar oleh tukang ojek sehingga perjalanan yang harusnya singkat terasa lebih jauh, dan si tukang ojek tentu saja bisa menaikkan tarif dengan dalih jarak yang jauh.

Tips untuk menghadapi oknum nakal seperti ini simpel, ketahui harga tarif angkutan di Kampung Inggris. Google. Dan jangan asal naik, nego harga dahulu dan jangan ragu bila kita memiliki referensi harga yang pasti. Bila ingin naik angkotpun bisa kita tanya sebelumnya: "Pak, Kampung Inggris sepuluh ribu ya!" Atau lebih baik lagi menggunakan bahasa Jawa, karena unsur kedaerahan masih terasa kental di Pare.

2. Begal/jambret/perampas
Ketika saya menuntut ilmu di Pare ada beberapa kali kejadian pembegalan/penjambretan/perampasan di Kampung Inggris. Yang dibegal dan dijambret memang bukan motor/sepeda namun berupa tas/uang, tapi tetap saja sangat merugikan. Modusnya antara lain mengambil dari kursuser yang menaruh barang di keranjang sepeda. Selain itu pernah kejadian jambret beraksi di dekat ATM, jadi kursuser sehabis mengambil uang langsung dijambret. Biasanya modus-modus tersebut dilakukan di seputar jalan Brawijaya yang memang lurus jalannya sehingga memungkinkan jambret/begal untuk memacu motor sekencang-kencangnya dan tak terkejar oleh kita.

Kewaspadaan diri kita memang yang utama menghadapi begal/jambret/perampas di Kampung Inggris Pare. Jangan taruh barang berharga seperti tas, handphone, atau dompet di keranjang sepeda. Waspada pula saat mengambil uang di ATM.

3. Maling/pencuri
Kejadian kemalingan atau kecurian di Kampung Inggris Pare memang tidak pernah saya alami langsung, namun pernah dijumpai oleh teman saya. Modusnya maling ini (biasanya lebih dari satu orang) berpura-pura ingin kursus di Kampung Inggris dan mencari kos atau camp baru. Mereka kemudian mengecek satu persatu ruangan, seakan-akan sedang mempertimbangkan beberapa hal, padahal mereka sedang mencari mangsa berupa barang yang bisa diambil. Tak jarang barang berharga seperti uang, laptop, handphone dan barang berharga lain hilang diambil mereka. Selain itu dalam skala yang lebih kecil kejadian kehilangan sandal, baju, uang dalam nominal kecil, seringkali terjadi di dalam satu camp/kos. Namun karena nilainya kecil, atau demi menjaga kondusifitas keadaan, akhirnya diikhlaskan begitu saja.

Tips untuk nomer tiga ini hampir sama dengan sebelumnya, waspadalah terhadap orang baru. Tapi tentu tak usah curiga berlebihan karena pada umumnya para kursuser yang ada di Kampung Inggris datang dengan niat yang baik.

4. Lingkungan camp/kos dan warung makan yang tidak bersih
Lingkungan yang tidak bersih di Kampung Inggris Pare berhubungan langsung dengan kesehatan kita. Seringkali kondisi yang kotor dan lembab membuat penyakit dengan mudah menghampiri. Penyakit kulit dan penyakit pencernaan sering menimpa kursuser di Kampung Inggris. Tidak hanya di camp/kos, kebersihan wajib kita perhatikan saat membeli makan di warung makan. Saya pernah beberapa kali menemui warung makan yang tingkat higienitasnya rendah, lalat dengan bebas beterbangan, debu yang sering masuk, kucing liar, dan kondisi di sekitar makanan yang kotor.

Idealnya tentu kita sendiri yang wajib mengatasi lingkungan camp/kos yang tidak bersih dengan cara rutin mencuci seprei/sarung bantal, menyapu dan mengepel lantai, hingga menjemur kasur dan bantal. Sementara untuk warung makan yang tidak bersih cukup kita tidak kunjungi dan tidak rekomendasikan kepada teman-teman kita.

5. Hal lainnya
Selain empat hal utama di atas, ada beberapa hal lainnya yang harus kita waspadai. Antara lain harga makanan yang mahal (silahkan berwisata kuliner untuk mengetahui harga-harga makanan di Kampung Inggris). Teman saya ketika pertama kali datang ke Kampung Inggris selalu makan di pinggir jalan Brawijaya, dan tentu harga makanannya mahal (antara 6-10ribu). Padahal dengan menu yang hampir sama kita bisa dapatkan dengan harga yang murah, mulai dari 3500 saja untuk nasi+sayur+tempe goreng.

Hal lain adalah harga sepeda. Teman saya belum lama ini survei di tiga tempat penyewaan sepeda dan mendapat harga yang berbeda-beda di ketiga tempat tersebut, terlebih bila kita ingin membeli sepeda, bukan menyewanya. Sebagai contoh sepeda wanita (yang ada keranjangnya) dengan kualitas menengah bawah ditawarkan seharga 400ribu sedangkan di tempat lain 350ribu saja. Karena itu tak ada salahnya bila kita cek harga terlebih dahulu sebelum membeli.

Demikian lima hal yang wajib membuat kita waspada, hati-hati dan ketahui di Kampung Inggris Pare. Terlepas dari hal tersebut, menuntut ilmu di Pare sangatlah menyenangkan dan jadi tempat yang cocok untuk menambah teman dari berbagai daerah di Indonesia :)
Rabu, 18 Maret 2015
Posted by Hikmawan

Popular Post

Random Post

- Copyright © 2015 eHikmawan.com - Tentang Hikmawan Ali Nova - Metrominimalist Template - Designed by Johanes Djogan -