Posted by : Hikmawan Rabu, 28 Januari 2015

 

eHikmawan.com - Dunia pendidikan di Indonesia kembali terhentak. Rasa miris dan geregetan muncul tatkala berita tentang seorang siswi SMP yang mencuri handphone berbuah hukuman yang sangat berat secara mental, yaitu dipermalukan di depan umum secara masif. Seberapa masif? Coba bayangkan wajah anda terpampang di beberapa sudut sekolah dengan label "Pencuri". Tak cukup itu saja, anda pun diwajibkan untuk "mengaku dosa" di depan khalayak sekolah saat selesai upacara. Itulah hukuman yang dikenakan pihak sekolah SMP 7 Surabaya kepada siswi tersebut. Seperti dikutip dari Detikcom, sebenarnya pihak sekolah memberi tiga opsi hukuman bagi sang anak yaitu dilaporkan ke polisi, dikeluarkan dari sekolah, dan membuat pengakuan serta meminta maaf kepada semua warga sekolah dan si orang tua siswi memilih opsi terakhir. Sekilas memang tampaknya hukuman tersebut terasa paling ringan, tapi coba kita bayangkan bila hukuman tersebut dikenakan kepada kita saat kita masih SMP! Seorang siswa normal pasti akan merasa sangat tertekan, was-was karena selalu dibully, merasa dimusuhi satu sekolah, dan bila semakin parah akan berujung pada kebencian terhadap sekolah, teman, guru, dan semua yang berhubungan. Dan bila kita lihat bahwa ada fenomena anak-anak usia seperti itu (14-16 tahun) berperilaku sangat buruk seperti bunuh diri atau bertindak kriminal, dan tentu bukan hal mustahil siswi SMP tersebut akan mengalami hal tersebut.

Saya memang tidak mengerti ilmu psikologi, namun saya sangat menyayangkan hukuman tersebut karena saya berandai-andai apabila mengalami hukuman seperti itu pasti akan sangat berat, dan lebih baik memilih pindah sekolah saja sekalian. Saya juga secara otomatis jadi memikirkan ibu saya, seorang guru BK/BP di sebuah madrasah swasta, sering bertemu dengan kenakalan-kenakalan remaja hingga tingkat yang ekstrim seperti kasus siswi SMP 7 Surabaya di atas. Dan jujur saja saya salut karena sepanjang yang saya tau belum ada masalah yang sangat berat karena ibu saya menggunakan pendekatan-pendekatan khusus yang kurang lebih sama dengan pendekatan yang dilakukan terhadap saya atau saudara-saudara saya yang lain. Pendekatan khususnya seperti apa? Sulit dijelaskan dengan kata-kata hehe. Balik lagi ke kasus tersebut, selain menyayangkan tentang hukuman saya juga tak habis pikir mengapa siswa sekolah tersebut diperbolehkan membawa handphone? Karena setahu saya mayoritas sekolah (termasuk sekolah ibu saya) dilarang bawa handphone disebabkan fungsinya yang sering disalahgunakan oleh siswa. Dan memang selain untuk komunikasi dengan orang tua lalu apalagi fungsinya? Bahkan kalau sekolah mau repot, fungsi komunikasi dengan pihak orangtua bisa difasilitasi oleh pihak sekolah. Jadi memang dalam kasus ini saya rasa pihak SMP 7 Surabaya kurang bijaksana dalam memperlakukan anak dengan kebutuhan khusus seperti siswa yang mencuri handphone tadi, dan saya harap tak ada lagi kejadian tersebut terulang serta pihak sekolah, siswi, dan pemerintah bisa mencari jalan tengah yang paling baik bagi kepentingan semua pihak.

Referensi: 
news.detik.com/surabaya/read/2015/01/28/143846/2816565/475/curi-hp-siswi-smp-ini-dihukum-minta-maaf-saat-upacara-dan-fotonya-dipajang?9922032
news.detik.com/read/2015/01/28/153314/2816661/475/2/ini-alasan-sekolah-pajang-foto-siswi-pencuri-hp

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Random Post

- Copyright © 2015 eHikmawan.com - Tentang Hikmawan Ali Nova - Metrominimalist Template - Designed by Johanes Djogan -